Wednesday, March 27, 2019

Game Online Bisa Bebani Neraca Pembayaran, Kok Bisa? - KOMPAS.com






JAKARTA, KOMPAS.com - Maraknya game onlilne yang bisa dengan mudah diunduh di platform penyedia aplikasi ternyata berpotensi membebani neraca pembayaran Indonesia (NPI). Sebab, meski banyak game yang gratis untuk diunduh, tetapi banyak pula input-input di dalam game tersebut yang ternyata berbayar.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan, meski jumlah transaksi dalam game online cenderung kecil sekitar Rp 7.000 hingga Rp 10.000 di setiap transakskinya, namun dengan jumlah pemainnya yang mencapai jutaan di Indonesia, kontribusinya terhadap defisit neraca pembayaran bisa jadi cukup besar.

"Main games itu keliatan enggak di neraca pembayaran Indonesia? Sekarang sih enggak, tapi mudah-mudahan keliatan ya. Itu uang kan keluar semua ya, kalau di seluruh dunia ada 700 juta pemain, sementara sekali main menghabiskan 0,5 dollar AS, di Indonesia bisa jadi 2 juta yang main, itu uang keluar semua untuk games itu," ujar Mirza di Jakarta, Rabu (27/3/2019).


Baca juga: Kemenkeu Rilis Game Simulasi Bikin APBN Sendiri

Mirza pun menekankan agar para pemain games atau orang-orang yang memiliki ketertarikan pada games tak hanya mengonsumsi games saja tetapi juga membuat terobosan dengan menciptakan sendiri aplikasi permainan jumlah uang yang keluar negeri karena games semakin sedikit.

Untuk bisa melakukan proses itu, pemerintah pun juga harus mulai mengubah jalur pemberdayaan manusia di dalam negeri.

"Indonesia harus menjalani proses ini dengan shifting. kalau kita mau melompat ke situ, kita juga perlu skill kita di situ," ujar Mirza.

Mirza mencontohkan bagaimana iklim perfilman di Indonesia yang saat ini sudah mulai berubah karena tenaga kerja yang terlibat di dalam dunia perfilman juga kian terampil.

Dia mengatakan, dulu saat dirinya muda sebagian film yang di putar di bioskop dalam negeri adalah film asing.

"Sementara sekarang PH lokal sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri," katanya.


Baca juga: Potensi Industri Game Indonesia Rp 11 Triliun, Tapi Belum Tergarap




























Read More

Ada Aliran Dana Mencurigakan Rp 1,78 T dari Produsen Taro - detikFinance




Jakarta

- Konflik di tubuh manajemen PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) atau TPS Food masih berlanjut. Selain diduga melakukan penggelembungan (overstatement) yang nilainya mencapai Rp 4 triliun, manajemen lama juga diduga mengalirkan dana ke pihak terafiliasi senilai Rp 1,78 triliun.

Dalam laporan Hasil Investigasi Berbasis Fakta PT Ernst & Young Indonesia (EY) kepada manajemen baru AISA tertanggal 12 Maret 2019 yang dikutip CNBC Indonesia, Rabu (27/3/2019), dugaan penggelembungan ditengarai terjadi pada akun piutang usaha, persediaan, dan aset tetap Grup AISA.

Dalam laporan setebal 109 halaman tersebut, terdapat dugaan aliran dana sebesar Rp 1,78 triliun dengan berbagai skema dari Grup TPS Food kepada pihak-pihak yang diduga terafiliasi dengan manajemen lama.





Bentuknya antara lain dengan menggunakan pencairan pinjaman Grup TPS Food dari beberapa bank, pencairan deposito berjangka, transfer dana di rekening bank, dan pembiayaan beban pihak terafiliasi oleh TPS Food.

Nah, terkait hubungan dan transaksi dengan pihak terafiliasi, tidak ditemukan adanya pengungkapan (disclosure) secara memadai kepada para pemangku kepentingan (stakeholders) yang relevan.

Menurut EY, hal ini berpotensi melanggar Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (sekarang menjadi aturan Otoritas Jasa Keuangan/OJK) No. KEP-412/BL/2009 tentang Transaksi Afiliasi dan Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu.

Manajemen baru produsen makanan ringan Taro yang dimaksud adalah para manajemen yang diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) 22 Oktober 2018 yang berisi Hengky Koestanto sebagai direktur utama dan Charlie Dungga sebagai direktur.

Adapun manajemen lama adalah pengelola perseroan sebelum RUPSLB tersebut. Manajemen lama perseroan terdiri dari Joko Mogoginta sebagai direktur utama dan tiga orang direksi lain yaitu Budhi Istanto, Hendra Adisubrata, dan Jo Tjong Seng.

Selain penggelembungan Rp 4 triliun tersebut, ada juga temuan dugaan penggelembungan pendapatan senilai Rp 662 miliar dan penggelembungan lain senilai Rp 329 miliar pada pos EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi) entitas bisnis makanan dari emiten tersebut.

Artikel asli berita ini bisa dilihat di CNBC Indonesia melalui tautan berikut ini: Mencurigakan! Ada Aliran Dana Rp 1,78 T dari Manajemen AISA (ang/ang)












Read More

Industri Peternakan Ayam Potong Rakyat Makin Memprihatinkan! - CNBC Indonesia



Jakarta, CNBC Indonesia

- Kondisi industri peternakan ayam potong (broiler) rakyat dan mandiri semakin memprihatinkan. Dalam tujuh bulan terakhir, kerugian peternak rakyat dan mandiri disinyalir mencapai Rp 1,4 miliar akibat harga jual ayam potong hidup (live birds) yang terus anjlok akibat kondisi oversupply di pasaran.

Para peternak yang tergabung dalam asosiasi Peternak Rakyat dan Peternak Mandiri (PRPM) dan Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) siang tadi menyambangi Kementerian Perdagangan (Kemendag). Mereka meminta Kemendag turun tangan memperbaiki harga jual live birds.




Foto: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution memantau peternakan ayam di Blitar. (CNBC Indonesia/Muhammad Choirul Anwar)



Sekretaris Jenderal Gopan sekaligus juru bicara PRPM Sugeng Wahyudi menjelaskan, menjelang minggu terakhir bulan Maret ini, harga jual live birds menyentuh posisi terendahnya dalam beberapa tahun terakhir, yakni Rp 10.800-11.000/kg. Kondisi itu sangat jauh dari rata-rata harga pokok produksi (HPP), yakni Rp 19.500/kg.

Kondisi itu disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari tingginya biaya sarana produksi akibat naiknya harga bibit ayam (day old chicken/DOC) dan harga pakan, kelebihan produksi (oversupply) ayam broiler di pasaran, terutama akibat dibanjirinya pasar oleh produk dari perusahaan peternakan terintegrasi, serta diikuti oleh lemahnya permintaan di tingkat konsumen.

"Harga live birds saat ini di Jawa Tengah, Jogja dan Solo bahkan berada di kisaran Rp 10.500 per kg. Di Bogor dan sekitarnya Rp 14.000 per kg, sementara di Pantura itu sekitar Rp 13.000 per kg. Artinya harga-harga itu masih jauh di bawah biaya pokok produksi," kata Sugeng di kantor Kemendag, Jakarta, Rabu (27/3/2019).

Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Jawa Tengah, Parjuni menjelaskan bahwa dirinya sudah merugi mencapai Rp 1,4 miliar dengan kerugian sekitar Rp 200 juta per bulannya selama tujuh bulan terakhir.

"Kerugian kami 100 persen. Dalam 7 bulan ini kan bisa empat kali panen. Dengan modal kita Rp 20.000/kg, setiap panen kita rugi Rp 5.000/kg. Dengan empat kali panen kami sudah rugi Rp 20.000/kg, sudah 100% hitungan pasarnya," ujar Parjuni.

"Kalau saya punya 100.000 ekor, saya sudah rugi Rp 200 juta di September tahun lalu dan itu terus berlanjut hingga hari ini. Dalam 7 bulan berarti sudah mencapai Rp 1,4 miliar. Saya sudah jual ruko dan mobil, utang saya belum ketutup," lanjutnya.




Foto: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution memantau peternakan ayam di Blitar. (CNBC Indonesia/Muhammad Choirul Anwar)



Lebih lanjut, dia memastikan peternak di tingkat bawah sudah banyak yang gulung tikar. Para peternak menuntut agar harga live birds dapat dikembalikan sesuai dengan harga batas bawah pembelian di peternak dalam Permendag 96/2018 yakni Rp 20.000/kg dan berlaku paling lambat 1 April 2019.

Mereka juga meminta harga DOC Rp 5.500/ekor dengan kualitas grade 1 serta harga pakan dengan grade premium turun setidaknya sebesar Rp 500/kg. Keduanya diharapkan mulai berlaku paling lambat 28 Maret 2019.

"Kami juga minta kepastian peternak rakyat dan peternak mandiri mendapat suplai DOC sesuai kebutuhan rutin serta bundling pakan dan DOC dihapuskan," tegas Sugeng.

Simak video terkait saham perunggasan di bawah ini.[Gambas:Video CNBC] (miq/miq)







Read More

Telkomsel dan Smartfren Sudah Hadir di Rute MRT, Yang Lain Bagaimana? - Detikcom




Jakarta

- Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (

ATSI

) mengatakan sudah seharusnya seluruh operator seluler dapat menggelar jaringan di rute yang dilalui Mass Rapid Transit (

MRT

) Jakarta.

Wakil Ketua Umum ATSI Merza Fachys mengatakan bahwa semua operator seluler ingin menyediakan layanan bagi pelanggan, khususnya di jalur MRT sebagai moda transportasi terbaru ibu kota.

Disampaikan Merza juga, operator seluler yang tergabung di ATSI terus melakukan lobi dengan Tower Bersama Group (TGB) sebagai perusahaan penyedia sarana telekomunikasi di MRT Jakarta.

"Saat ini ATSI atas nama seluruh anggota, dengan TBG, masih mendiskusikan terms and condition yang saling menguntungkan terutama untuk jangka panjang," kata Merza dalam pesan singkatnya kepada detikINET, Rabu (27/3/2019).

Merza menyebutkan dalam diskusi tersebut, harga pasang jaringan di rute MRT juga turut dibahas. ATSI berharap proses pembahasan ini bisa segera diakhiri dengan kata sepakat.

"Harga adalah salah satu hal yang termasuk didiskusikan. Mudah-mudahan dapat segera final sehingga masyarakat akan dapat memanfaatkan layanan telekomunikasi ketika berada di MRT dan area-area di dalamnya," tuturnya.

Sejauh ini sudah ada dua operator seluler yang menggelar jaringan di rute MRT Jakarta, yaitu Telkomsel dan yang terbaru adalah Smartfren. Sementara itu sejumlah provider lain masih terus berupaya hadir agar layanan telekomunikasinya bisa dinikmati oleh penumpang MRT.

Diketahui, MRT Jakarta melayani 13 stasiun yang terbentang dari Bundaran HI-Lebak Bulus. Dari rute tersebut, terdapat 7 Stasiun Layang, yaitu Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M dan Sisingamangaraja.

Sementara itu, konstruksi bawah tanah (underground) MRT Jakarta membentang lebih dari 6 km, yang terdiri dari enam stasiun MRT bawah tanah, yakni Stasiun Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas, Bundaran Hotel Indonesia. Stasiun di bawah tanah ini yang jadi persoalan bagi pelanggan telekomunikasi, karena ini adalah area blankspot sehingga pemasangan jaringan telekomunikasi dari operator seluler jadi solusinya.

(agt/krs)









Read More

Garuda Indonesia Bantah Ditekan Luhut Turunkan Harga Tiket Pesawat - KOMPAS.com






JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara angkat bicara ikhwal pertemuannya dengan Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan pada Selasa (26/3/2019) malam.

Ia mengakui memang ada permintaan untuk menurunkan harga tiket oleh pemerintah, namun hal itu dibantah sebagai bentuk paksaan.

"Semalam pertemuan dengan Pak Menko Maritim dan Pak Menhub hanya diskusi tentang industri, memang ada himbauan untuk menurunkan harga tiket," ujarnya dalam pesan singkat, Jakarta, Rabu (27/3/2019).

"Namun semuanya diserahkan kepada korporasi, karena memang itu ranah korporasi. Tidak ada sama sekali pemaksaan," sambung dia.


Baca juga: Maskapai Diultimatum untuk Turunkan Harga Tiket Per Awal April

Sebelumnya, Luhut sangat menyayangkan harga tiket pesawat yang tidak kunjung turun meski pemerintah kerap memintanya. Hal itu terungkap setelah notulen rapat di Kemenko Kemaritiman tersebar.

Rapat itu antara Menko Kemaritiman, Kementerian Perbuhungan, dan pemangku kepentingan dilakukan pada Senin (25/3/2019).

Luhut lantas meminta Garuda Indonesia sebagai leading maskapai nasional agar segera menurunkan harga tiket. Karena mahalnya harga tiket berdampak kepada sektor pariwisata

Ia pun memberi ultimatum kepada maskapai agar penurunan tiket pesawat di semua rute terhitung pada awal April 2019.


Baca juga: Ingin Tahu Kapan Saja Harga Tiket Pesawat Murah?




























Read More

Perusahaan Sandiaga Kantongi Rp 900 M dari Investasi di 2018 - detikFinance




Jakarta

- PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. (SRTG) berhasil meraih dividen senilai Rp 900 miliar dari perusahaan investasinya. Presiden Direktur Saratoga Michael Soeryadjaya menjelaskan bahwa kinerja perusahaan pada tahun 2018 menggambarkan bahwa strategi investasi yang dilakukan oleh Saratoga mampu menghasilkan hasil investasi yang optimal.

Secara fundamental, perusahaan-perusahaan investasi Saratoga juga tumbuh secara positif dan terus meningkatkan nilai tambah perusahaan melalui strategi pertumbuhan organik dan non organik.

"Kami bangga dengan kinerja perusahaan investasi kami di tengah tantangan bisnis yang sangat dinamis pada tahun 2018. Disiplin dan kehati-hatian dari tim investasi kami merupakan kunci keberhasilan Saratoga dalam mencapai pengembalian investasi yang optimal," jelas Michael di Jakarta, (27/3/2019).

Michael menjelaskan lebih jauh bahwa pendapatan dividen sebesar Rp 900 miliar diperoleh dari enam perusahaan investasi. Hasil ini menunjukkan kinerja operasional dan bisnis yang kuat dari perusahaan investasi.

"Hasil yang diperoleh Saratoga ini sangat menggembirakan. Tidak hanya pertumbuhan pendapatan dividen selama bertahun-tahun, tetapi yang lebih penting, diversifikasi perusahaan investasi yang berkontribusi pada dividen," jelasnya.

Pada tahun 2018, Saratoga juga terus mengidentifikasi peluang untuk menambah nilai perusahaan. Salah satunya adalah investasi baru di PT Aneka Gas Industri Tbk (kode saham: AGII), pemasok gas industri dominan di negara ini. Untuk mengambil keuntungan dari pertumbuhan sektor teknologi, Saratoga juga mulai merambah bisnis start-up melalui mitra investasi.

"Perusahaan percaya bahwa sektor teknologi memiliki prospek yang menjanjikan di masa depan karena adanya disrupsi dalam cara hidup kita dan implikasi luas kepada masyarakat," kata Michael menambahkan.

Terkait kerugian sebesar Rp 6,2 triliun, Michael menegaskan itu merupakan rugi buku yang belum di realisasi. Kerugian terjadi akibat volatilitas harga saham sejumlah perusahaan investasi serta kenaikan suku bunga, fluktuasi harga komoditas dan melemahnya mata uang yang terjadi sepanjang 2018.

"Kerugian itu sebagai dampak penerapan mark to market sejak 2017. Ini adalah rugi buku yang belum direalisasi," tegasnya.

Sebagai perusahaan investasi aktif, kinerja Saratoga memang sangat dipengaruhi oleh perusahaan investasi. Dan hal yang biasa jika nilai investasinya turun ketika perekonomian bergejolak, seperti yang terjadi di 2018.

"Dari waktu ke waktu, kondisi ini normal terjadi di pasar untuk melalui berbagai tahap volatilitas dan sebagai investor jangka panjang, kami tetap percaya diri pada prospek perusahaan investasi. Kami juga yakin bahwa harga saham pada akhirnya akan mampu menyamai fundamental perusahaan," kata Michael optimis.

Saratoga tercatat didirikan oleh Sandiaga Uno bersama dengan Edwin Soeryadjaya. Mereka berdua berhasil membangun perusahaan yang kerap membeli banyak perusahaan kemudian dipoles menjadi perusahaan besar.

Perusahaan ini berdiri sejak 1998. Sejak saat itu banyak perusahaan yang telah dikembangkan oleh SRTG. Ambil contoh PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), PT Provident Agro Tbk (PALM), PT Mitra Pinasthika Mistika Tbk (MPMX) dan masih banyak lagi. (dna/fdl)












Read More

Disorot Harga Tiketnya Mahal, Garuda Janjikan Beri Diskon - KOMPAS.com







JAKARTA, KOMPAS.com - Maskapai Garuda Indonesia disorot tajam lantaran harga tiketnya masih mahal meski sudah diimbau pemerintah.

Bahkan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan meminta agar maskapai BUMN itu menurunkan harga tiket pesawat.

Menanggapi hal itu, Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra Askhara menjanjikan bahwa maskapai tersebut akan memberikan diskon.

Baca juga: Garuda Indonesia Bantah Ditekan Luhut Turunkan Harga Tiket Pesawat

"GA (Garuda) juga banyak dan akan terus memberikan program-program diskon sesuai dengan ekspektasi pelanggan," ujar Ari, panggilan akrabnya dalam pesan singkat, Jakarta, Rabu (27/3/2019).

"Melalui travel fair atau online marketplace dan silakan dipesan jauh sebelum hari keberangkatan," sambung dia.

Khusus Maret 2019 ini, Garuda Indonesia akan kembali menggelar Online Travel Fair dan festival-festival lainnya yang dijanjikan menarik buat masyarakat.

Baca juga: Maskapai Diultimatum untuk Turunkan Harga Tiket Per Awal April

Selain itu, Garuda juga mengatakan akan melakukan effisiensi dan terobosan-terobosan baru untuk menekan biaya. Salah satunya adalah dengan meningkatkan Ancillary Revenue.

"Program efisiensi biaya yang kami akan lebih optimal bila mendapat dukungan semua pihak," kata dia.




























Read More